Reinvensi ‘Gerak’ sebagai Kode Kultural dalam Budaya Visual berbasis Kearifan Lokal Nusantara Studi Kasus Film Setan Jawa Karya Garin Nugroho

Agustina Kusuma Dewi • Yasraf Amir Piliang • Irfansyah Irfansyah
Conference paper Seminar Nasional Seni dan Desain 2019 • September 2019

Download full text
(Bahasa Indonesia, 6 pages)

Abstract

Dalam film, cara berpikir berkaitan erat dengan persepsi serta kesesuaiannya terhadap nilai yang menjadi dasar informasi yang dikomunikasikan. Pada penelitian ini, ‘gerak’ dihadirkan sebagai konsep yang menjadikan subyektivitas sebagai sebuah imaji khusus, kaitannya dengan identitas kultural ketika perubahan teknologi dan kemunculan ruang virtual menyamarkan keberadaan individu dalam relasinya dengan nilai-nilai yang menjadi basis pembentukan identitas diri etnis sebagai bagian dari ragam tatanan relasi sosial. Studi kasus film ‘Setan Jawa’ karya Garin Nugroho adalah produk budaya visual berbasis kearifan lokal Nusantara dalam kerangka mitologi Jawa; yang merupakan film bisu hitam-putih dengan iringan orkestra Gamelan secara langsung. Metode penelitian adalah Focus Group Discussion, instrumen penelitian berupa kuesioner uji respon estetik sensasi ‘gerak’ yang diujikan pada 15 responden hasil teknik sampling purposive dari beragam kultur (Sunda, Melayu-Jawa, Sunda-Batak, Jawa, SundaJawa). Indikator pengujianpengembangan hasil penelitian Hoege (1984), Roger Long (1979) dan Goffman (1979). Hasil uji respon estetik menunjukkan bahwa ada kode kultural yang direinvensi melalui konstruksi ‘gerak’ dimaknai dengan persepsi yang sama antara kultur yang satu dengan lainnya, namun pada ranah simbolisme, tetap perlu ada penggalian lebih dalam mengenai reinvensi ‘gerak’ sebagai kode kultural yang ditransposisikan menjadi tanda semiotik representasi identitas kultural dalam film sebagai produk budaya yang berorientasi global. Kata kunci: kode kultural, kode gerak, film setan jawa, identitas kultural

Metrics

  • 8 views
  • 0 downloads

Conference

Seminar Nasional Seni dan Desain 2019

Nusantara terbentuk dari percakapan kultural yang intim, sehingga produksi seni yang menyertainya... see more